Prosedur dan Tes Sebelum Transfusi Darah
Prosedur dan tes sebelum transfusi darah dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Berat badan (bb) dan usia pendonor merupakan faktor penting yang diperiksa sebelum seseorang dapat menjadi pendonor darah. Pendonor harus memenuhi syarat berat badan minimum dan memiliki usia yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
2) Sehari sebelumnya, pendonor diminta untuk tidak mengkonsumsi obat tertentu. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa darah yang disumbangkan tidak terpengaruh oleh obat-obatan tertentu yang mungkin dapat mempengaruhi kualitasnya.
3) Sebelum darah diambil, sejumlah kecil darah pendonor akan dicemplungin ke dalam sebuah larutan. Jika darah tersebut tenggelam dengan baik dalam larutan, hal ini menandakan bahwa darah tersebut memiliki kepadatan yang sesuai.
4) Dilakukan tes untuk mengetahui kecocokan golongan darah dan faktor Rh (Rhesus) antara pendonor dan penerima darah. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya reaksi transfusi yang merugikan.
5) Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya empat penyakit yang dapat ditularkan melalui transfusi darah, yaitu Malaria, HIV, Hepatitis, dan penyakit organ genital.
Jenis darah yang akan diambil dari pendonor dapat beragam, tergantung pada kebutuhan penerima darah. Ini bisa berupa whole blood (darah utuh), erythrocyte concentrate (eritrosit konsentrat), platelets concentrate (keping darah), atau produk darah lainnya.
Pendonor darah yang telah menyumbangkan darah sejumlah tertentu, seperti 60x, 75x, dan 100x, dapat menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan negara. Mereka juga mungkin akan diberikan sebuah kartu pendonor. Konon, bagi pendonor yang telah menyumbangkan darahnya lebih dari 60 kali, akan mendapatkan fasilitas khusus, termasuk mendapatkan darah secara gratis jika suatu saat mereka membutuhkannya.