Obat Mujarab untuk Tersadarkan dari Ilusi yang Nyata
Coba bayangkan dirimu dikejar-kejar oleh seorang pembunuh kejam yang mempunyai hobi memutilasi korban-korbannya… berada di posisi tersebut, siapa yang tidak melarikan diri? Pasti kita akan berjuang mati-matian untuk menyelamatkan diri. Di saat sibuk berlari, tiba-tiba kesandung… dan ‘bruk!!’ Aduh… badan terasa sakit karena terjatuh dari atas ranjang. Tapi, di saat yang bersamaan diri ini pun menghela nafas panjang… karena baru sadar kalau ternyata ini semua hanyalah sebuah mimpi.
Begitu menyadari ini adalah sebuah mimpi, sangat mudah bagi kita untuk segera move on dan tidak mempermasalahkannya lagi. Karena kita sangat jelas, bahwa tak peduli apapun yang terjadi di dalam mimpi… itu semua tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata yang kita jalani. Jadi, buat apa bersusah payah untuk menghabiskan energi memikirkan semua kepalsuan tersebut?
Hal yang sama, juga terjadi pada raga jasmani kita. Hanya saja, untuk yang satu ini… kita berkukuh meyakini bahwa aku adalah badan yang terlihat ini. Menyuruhku untuk mempercayai bahwa badan ini adalah identitasku yang palsu, layaknya sebuah kostum yang sedang kita kenakan di kehidupan kali ini… aku tidak bisa mempercayainya.
Kalau aku yang sesungguhnya adalah badan ini… lalu, siapa yang berlari-lari untuk menyelamatkan diri di dalam mimpi? Terus, siapa pula yang tergeletak jatuh dari atas ranjang dan merasa kesakitan? Pengalaman yang dirasakan atas dua dunia ini sama-sama terasa nyata… kalau tidak, mengapa kita bisa sampai keringatan tak karuan saat mengalami mimpi buruk? Bahkan ketika baru membuka mata, rasa takut dan ngeri masih terasa.
Sebaliknya, kalau mendapatkan mimpi yang indah… misalnya mimpi investasi saham naik, mimpi bisa nge-date bersama sang idol, mimpi liburan keliling dunia bersama orang-orang yang disayangi, dan mimpi-mimpi terindah versi kita masing-masing. Saat baru bangun, masih bisa senyam-senyum sendiri… sampai akhirnya kita menyadari, kalau itu semua ternyata juga hanya sebuah mimpi.
Ternyata hidup sekarang ini juga tak berbeda jauh dengan mimpi loh… di balik ilusi yang terasa nyata ini, tersimpan kefanaan yang siap untuk membuat kita kaget dan terkejut dengan perubahan-perubahan yang tidak pernah bisa diduga-duga. Sering kali kita tidak menyadari hal ini dan terombang-ambing dipermainkan oleh dunia ini… dan ketika menyadari semua kepalsuan ini, ternyata sudah terlambat. Mimpi sudah berakhir, aku harus berhadapan dengan kenyataan yang sudah tidak bisa diubah lagi.
Seandainya aku mengetahui dan menyadari hal ini lebih cepat, aku pasti tidak akan menghabiskan waktu untuk aktivitas-aktivitas tidak jelas yang kelak akan kusesali. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Bukan penyesalan namanya kalau dia tidak telat.…
Obat mujarab untuk tersadarkan dari kefanaan dunia ini adalah mulai menyadari
“Ternyata, badan ini bukanlah aku yang sesungguhnya…
tapi hanya sebuah media yang terpaksa dipinjam
agar aku bisa eksis di muka bumi ini.”
Misalnya sebuah kapal sebagai media untuk berlayar… untuk melakukan petualangan di atas air, mengarungi semua samudra, kapal (atau semacamnya) adalah sebuah wadah yang mutlak dibutuhkan. Tanpa sarana ‘kapal’ ini, cerita ‘menaklukkan samudra’ tidak akan ada.
Begitu juga halnya dengan sebuah kostum. Saat festival cosplay berlangsung, kostum berperan penting untuk membuat kita bisa benar-benar menyerupai karakter yang sedang kita tiru. Saat mengenakan kostum Son Goku, kita menjadi Son Goku; menggunakan kostum Naruto, kita menjadi Naruto; memakai kostum Luffy, kita menjadi Luffy. Namun ketika kostum-kostum tersebut ditanggalkan, atau ketika festival cosplay berakhir… ada di mana si Son Goku, Naruto, dan Luffy?
Sebenarnya, kamu bukanlah kamu… aku juga bukan aku. Saat ini kita sedang mengenakan kostum pada diri kita. Ada yang sedang berperan sebagai konglomerat kaya, ada juga yang memainkan peran rakyat jelata; ada yang bersandiwara sebagai The Beauty, juga harus ada yang bertindak sebagai The Beast. Semua suka-duka dari peran apapun yang kita mainkan, hanyalah sebuah drama kehidupan.
Yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri adalah
“Siapa tokoh di balik kostum?”
Siapa aku sebenarnya?