Awas!!! Limbah Masker Anda, Membahayakan Keselamatan Orang Lain, Lingkungan dan Satwa Liar
Pemakaian masker selama masa pandemi Covid-19 menjadi bagian protokol yang wajib dilaksanakan ketika Anda bepergian keluar rumah. Dengan menggunakan masker Anda secara signifikan menurunkan risiko memaparkan atau terpapar virus Covid-19. Belum lagi dengan munculnya varian-varian baru dari Covid-19 dengan tingkat infeksi lebih tinggi, menggunakan masker 2 lapis menjadi anjuran yang lebih safety. Memakai masker menjadi sebuah kebiasaan baru, sebuah komoditas konsumsi yang tiba-tiba melonjak akibat musim pandemi.
Namun pernahkah terpikir, ke mana perginya limbah masker bekas yang kita gunakan tadi? Dan bila setiap orang memakai setidaknya 1 helai masker medis setiap hari, berapa jumlah limbah yang timbul dari konsumsi 7 miliar manusia? Tahukah Anda bahwa masker bekas dapat bersifat infeksius, arti kata dapat menjadi sarana penyebaran virus Covid? Bagaimana dengan limbah masker ini? Ke manakah berakhirnya? Apa dampak limbah dengan jumlah yang begitu besar ini terhadap lingkungan?
Masker Medis yang Anda Buang Bersifat Infeksius. Pisahkan!
Mari catat, masker medis termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Penanganan limbah B3 harus dilakukan secara khusus, tidak bisa disamakan dengan limbah rumah tangga pada umumnya. Kita juga tentu tahu bahwa virus Covid-19 dapat bertahan hidup sekitar 3 hari di sebuah permukaan benda.
Mari ketahui juga, selain masker medis, limbah rumah tangga lainnya seperti baterai, deterjen, pembalut, popok bayi, dan sejenisnya juga merupakan kategori limbah B3.
Limbah B3 harus dikelola secara khusus, dan pemilahan limbah sangat dibutuhkan. Bayangkan bila Anda mencampurkan limbah B3 dengan limbah rumah tangga lainnya lalu kemudian dijemput oleh petugas kebersihan dan berakhir di TPA. Lalu ada saudara-saudara pemulung kita kemudian mengais satu per satu dan mereka terpapar Covid-19 atau infeksi penyakit lainnya, bukankah hal ini sangat disayangkan. Tanpa menyadari hal di atas, dengan ceroboh kita telah membahayakan orang lain.
Pisahkan limbah B3 dari rumah Anda, kelompokkan, bungkus terpisah dan beri label “Limbah B3”. Dengan demikian petugas dari Dinas Kebersihan yang mengurus dapat mengenali dengan baik dan segera memisahkannya. Limbah B3 yang terkumpul kemudian dapat dibawa kepada tempat pengelolaan limbah B3 yang ditunjuk.
Bahkan kolaborasi UGM, ITB, UNS dan UNAIR telah menawarkan solusi pemusnahan limbah masker bekas dan sarung tangan plastik sekali melalui program inovatif mereka, Dumask (Dropbox-Used Mask).
(Anda dapat membaca lebih lengkap di dumask solusi sampah masker dan sarung tangan di tengah pandemi)
Limbah-limbah masker dan sarung tangan dikumpulkan ke dalam Dropbox khusus dan kemudian dijemput, lalu dimusnahkan dengan teknologi termal yang memadai. Program Dumask menjadi salah satu solusi yang bisa diadopsi oleh pemerintah di setiap daerah.
Khusus bagi Anda yang berdomisili di Yogyakarta dan Solo, box Dumask telah tersedia di sekitar Anda. Cek di sini https://dumask.id/
Sterilkan Masker Sebelum Dibuang
Cara yang efektif untuk mengurangi infeksi dari masker bekas adalah melakukan sterilisasi sebelum dibuang. Anda dapat melakukannya dengan menggunakan alkohol, disinfektan ataupun memanaskannya pada suhu 70°C sebelum dibuang. Dan agar lebih bermanfaat lagi, Anda dapat berpartisipasi dalam daur ulang masker bekas (akan dijelaskan pada poin terakhir).
Pilih Masker Kain atau N95 Ketimbang Masker Medis
Kapanpun, pada saat Anda memiliki pilihan, mari pilih gunakan masker kain atau N95. Kelebihan kedua jenis masker ini selain dapat dicuci kembali untuk dipakai kembali, juga secara efektif membantu mengurangi limbah masker medis yang sudah terlampau banyak. Pencucian dapat dengan merendam masker Anda ke dalam cairan desinfektan seperti Dettol, atau pun cairan natrium hipoklorit seperti Bayclin.
Berdasarkan data KLHK pada periode 19 Maret 2020 – 9 Februari 2021, total timbunan limbah medis Covid-19 mencapai 7.500 ton. Jumlah limbah yang begitu signifikan ini secara nyata dapat mencemari lingkungan dan merusak ekosistem. Terlebih sistem pengelolaan sampah di Indonesia saat ini yang masih banyak menggunakan open dumping tidak dapat mengelola sampah dengan maksimal. Akibatnya, sekitar 60% sampah ditimbun di TPA, 30% tidak dikelola dan hanya 10% dari timbulan sampah yang dapat didaur ulang.
Potong Tali Limbah Masker Anda!
Akhir-akhir ini kita melihat banyak beredar dokumentasi gambar faktual dari satwa-satwa liar yang kedapatan terperangkap oleh masker bekas. Yah benar, masker yang kecil bisa mengancam hidup mereka. Kita dapat melihat salah satu gambar di bawah dimana 2 ekor monyet di bawah mengira masker bisa dimakan.
Masker medis adalah limbah B3, sekali lagi, adalah golongan Bahan Berbahaya dan Beracun. Kejadian seperti di atas dapat membahayakan nyawa dari satwa liar. Lalu tali masker bekas juga dapat menjerat satwa liar seperti gambar di bawah.
Pada kejadian di atas, kaki unggas liar di atas mengalami pembengkakan yang hampir dapat berakibat kelumpuhan. Pada saat ditemukan, unggas ini sudah tidak bisa melarikan diri karena terperangkap. Bayangkan berapa banyak unggas dan hewan liar lainnya yang tidak ditemukan dalam kondisi terancam.
Mengetahui hal di atas, segera POTONG TALI masker sebelum Anda buang. Yah, potong talinya sebelum dibuang. Hindari segala kemungkinan di atas! Kelompokkan, labeli sebagai limbah B3. Dan kapan pun ada pilihan, gunakanlah masker kain. Lakukan hal sederhana di atas, setiap dari kita bisa, tidak sulit!
Daur Ulang Masker Bekas Pakai
Masker bekas, sama halnya dengan limbah plastik lainnya, dapat digunakan untuk dibuat menjadi EcoBrick. Ecobrick sendiri adalah alternatif pengganti batu bata yang dibuat dengan botol plastik berisikan limbah-limbah plastik yang dipadatkan.
Caranya sendiri sangat sederhana, potong masker bekas yang telah disterilkan beserta limbah-limbah plastik lainnya menjadi potongan-potongan kecil. Lalu masukkan ke dalam sebuah botol plastik bekas hingga penuh dan benar-benar padat. EcoBrick siapkan digunakan!
Ilustrasi Ecobrick yang digunakan sebagai bahan bangunan sebuah rumah.
Masker bekas yang memiliki bahan dasar plastik juga dapat didaur ulang menjadi biji plastik. Setidaknya hal ini telah diteliti dan dipraktekkan di Laboratorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cisitu, Bandung, Jawa Barat. (Baca lebih lanjut di LIPI Tawarkan Solusi Timbulan Limbah Masker | Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Hal ini tentu menggembirakan sebab limbah masker bisa menjadi bernilai ekonomis, membuka peluang pengelolaan limbah plastik secara lebih masif dengan memanfaatkan teknologi serupa. Kita berharap ke depan semakin banyak instansi dan pelaku usaha yang dapat merangkul LIPI, bekerjasama untuk semakin meminimalkan jumlah masker bekas di seluruh pelosok.
Yayasan Upakara Persada Nusantara kini juga menerima kiriman masker-masker bekas dari masyarakat, dengan ditujukan ke alamat Yayasan Upakara Persada Nusantara (UPN). Masyarakat yang ingin berpartisipasi, perlu mendaftar terlebih dahulu di https://bit.ly/35UXXFQ untuk mendapatkan giliran pengiriman mengingat kapasitas pengelolaan masih terbatas. Ingat, biaya pengiriman ditanggung pribadi, dengan demikian dianjurkan setidaknya mengumpulkan masker bekas Anda dalam jumlah yang cukup banyak sebelum dikirimkan.
Penting! Namun ingat sebelum Anda mengirimkan masker-masker bekas tersebut, sterilkan dengan cara merendamnya dengan sabun/desinfektan atau melakukan penyemprotan dengan alkohol. Setelah kering, masker dapat digunting menjadi potongan kecil dan dimasukkan ke dalam kantong hingga dirasakan cukup banyak. Segel dan masker untuk daur ulang Anda siap dikirimkan.
Untuk pertanyaan dan dukungan lebih lanjut terkait program ini, masyarakat dapat menghubungi Ibu Nuri dari Yayasan UPN, di nomor 0813 648 1468
Demikianlah mari, kita melakukan upaya terbaik. Selain menggunakan masker untuk melindungi keselamatan diri kita di masa pandemi, selayaknya kita juga senantiasa peduli dan melindungi keselamatan sesama, makhluk lain juga kelestarian alam.
Cintai alam, Cintai semua kehidupan,
niscaya Semesta akan Mencintai dan Melindungi kehidupan kita. Bukankah Semesta Raya sendiri adalah wujud Cinta yang Maha Akbar nan Sempurna?